Hubungan Orang Tua dan Anak

Ada 4 cara hubungan antara orangtua dengan anak.

1. Tugas tinggi hubungan tinggi: Anak dituntut untuk menjadi orang sukses dan didampingi untuk meraihnya. Kemungkinan anak ini sukses. Tetapi sesungguhnya yang sukses adalah bapaknya. Anaknya kehilangan jati dirinya.

2. Tugas tinggi hubungan rendah: Anak dituntut untuk menjadi orang sukses tanpa didampingi orangtuanya. Anak ini kemungkinan sukses. Tetapi miskin akan kasih sayang. Anak ini bisa "keras" nyaris tanpa belas kasihan. Orang bilang gak punya perasaan.

3. Tugas rendah, hubungan tinggi: Anak tidak dituntut untuk menjadi orang sukses, tapi terus didampingi orangtuanya. Anak ini cukup "bahagia". Tetapi, kemungkinan besar gagal dalam kehidupuannya, terutama setelah ditinggal oleh orangtuanya.

4. Tugas rendah, hubungan rendah: Anak tak dituntut untuk menjadi orang sukses, dan orangtuanya cuek ajah, masa bodo. Masa depan anak ini gak jelas. Kemungkinan besar gagal dalam kehidupannya dan sering menjadi trouble maker bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Ke empat cara interaksi yang semua orangtua lakukan kepada anaknya, baik disadari maupun tidak, gak ada yg baik untuk kepentingan anaknya. Menjadi baik hanya karena ketepatan dalam menerapkan cara berinteraksi sesuai situasi dan kondisi setiap waktu. Kadang cuman kebetulan. Kapan waktunya menuntut, kapan waktunya membiarkan. Kapan waktunya mendampingi, kapan waktunya meninggalkannya sendiri. Tugas kita sebagai orangtua sekadar meneruskan eksistensi species manusia di planet bumi ini, lebih baik lagi.

Dari 4 model yang tanpa disadari dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya, kita bisa tau kira-kira model apa yang pernah diterapkan orangtua kita kepada kita sehingga kita jadi begini. Bisa model 1,2,3,4 bisa juga campuran model sesuai sikon. Kalau kamu-kamu sekarang berhasil jadi orang sukses dan bahagia, bersyukurlah punya nasib beruntung sehingga punya orangtua yang diarahkan berinteraksi sama kamu dengan cara yang baik, tepat sesuai sikon.

Kalau kebetulan nasib kamu kurang beruntung sehingga punya orangtua tidak membesarkan kamu dengan baik, salah atau gak tepat dalam memilih model interaksi orangtua dengan anak, yagapapa. Itu diluar kendali kamu, tapi kamu punya kendali dalam berinteraksi sama anak kamu (kelak). Tidak mengulangi lagi kesalahan orangtua kamu dalam berinteraksi dan mendidik kamu, kepada anak2 kamu (nanti). Cara yang sama mungkin akan kamu lakukan kepada anak2 kamu. Lakukanlah dengan keempat model berganti-ganti disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

Kamu dapat perlakuan buruk atau dapet perlakuan baik dari orangtua kamu pada hakekatnya itu balasan atas perilaku kamu pada past life. Anggeplah orangtua kamu gak tahu atau gak tepat dalam berinteraksi dan mendidik anaknya, tapi sekarang kamu kan sudah tahu. Maafkan orangtua kamu, dan berjanjilah akan berinteraksi dan mendidik (calon) anak-anakmu dengan cara yang baik dan tepat. Boleh jadi (calon) anak2 mu itu bukan musuh bebuyutan kamu seperti kamu dengan emak/bapak kamu. Bokeh (calon) anak-anak kamu itu sahabat karib kamu.
Kamu dengan emak/bapak kamu atau kamu dengan anak-anak kamu itu pada hakekatnya adalah musuh bebuyutan atau sahabat karib kamu yang baru ketemu lagi dalam kehidupan sekarang ini. Konsep reinkarnasi dan karma menjelaskan itu.

"Kalo pacar atau suami/istri, oum Andi?" Iya sama saja, semua orang yang kamu jumpai saat ini bisa musuh bebuyutan kamu atau sahabat karib kamu pada kehidupan terdahulu. Reinkarnasi untuk saling membalas karma (baik atau buruk) dan meraih pelajaran hidup yang lebih baik lagi.

Asalkan memahami apa yang terjadi, memaafkan masa lalu dan masa kini yang ngeselin dan mengubah perilaku lebih baik lagi.

Do'a oum Andi beserta kamu ya..?

Komentar

Postingan Populer