Hukum Kehidupan Untuk Umat Manusia
Kadang terjadi jika selamat dari satu musibah (bencana alam), tidak selamat dari musibah berikutnya yang terjadi dalam jangka waktu yang relatif tidak lama berselang. Semacam masih diberi waktu untuk menyelesaikan hal2 yang belum selesei. Paling tidak u/bertobat.
Ambil contoh bencana alam (gempa Lombok) sekitar akhir Juli tahun lalu, korban meninggal berjumlah belasan orang. Sekitar seminggu kemudian awal Agustus, korban meninggal mencapai lebih 230 orang. Orang yang meninggal bulan Agustus itu yang maksud saya semacam masih diberi waktu.
Juga kadang bencana alam terjadi berdekatan waktunya dengan ritual ibadah Qurban. Seperti tsunami Aceh tempo hari, yang agak mirip waktunya dengan gempa Lombok sekarang ini, berdekatan dengan ibadah Qurban. Barangkali ada pesan yang disampaikan.
Maksud saya, kalau ada rencana mau berqurban tahun ini, motong kambing terlebih motong sapi, gimana kalau uang dana untuk berqurban itu disumbangkan saja kepada orang2 yang sedang mengalami musibah. Mudah-mudahan tahun depan masih berlebih rezeki biar bisa berqurban lagi.
Jika itu dilakukan, hakekatnya tidak hanya orang nyang ingin berqurban yang menyumbang kepada orang - orang yang sedang mengalami musibah, tapi orang2 yang rencananya akan menerima daging qurban juga turut menyumbang. Agama mengajarkan azas manfaat, tidak cuman sekadar ibadat.
Rezeki saya atau semua yang saya miliki, pada hakekatnya adalah juga milik istri dan anak-anak saya. Saya sering ngomong kepada mereka jika berderma dengan jumlah nyang cukup banyak.
Ini hak kamu, sementara kita titip dahulu kepada yang sedang membutuhkan. Kelak saatnya tiba, kamu bisa menerimanya kembali dengan segala cara kamu sendiri." Yup, seperti deposito lah. Dah waktunya juga cair sendiri. Sekarang dah ada pencairan sebagaimana yang dimaksud.
Ini bisa menjelaskan, kenapa ada orang yang terlihat banyak berderma pada hari tua hidupnya dalam kesulitan keuangan, setelah orang itu meninggal dunia, anak- anaknya hidup dalam keadaan makmur. Betul, dermanya milik anak-anaknya, yang secara arogan dipake buat memberi makan nafsunya.
Ini konsep karma dan karma phala yang jarang dipahami orang. Apalagi yang tidak tauk (percaya) pada konsep karma/karmaphala yang digelar dalam menyelenggarakan kehidupan manusia di dunia ini. Hukum kehidupan yang dikenakan untuk seluruh umat manusia.
"Wahai orangtua, tiati dengan rezeki yang seolah-olah milik kamu sendiri. Ingat di dalam rezekimu itu ada juga rezeki anak-anak kamu."
Kalau sudah memahami ini, jangankan mau berselingkuh yang bisa ngabisin duit, mau kawin lagi meski agama memberi jalan juga bakalan mikir lagi. Pun bisa terjadi untuk para istri yang dah punya anak. Gak cuman selingkuh ajah, intinya biaya hidupnya mihil. Gak percaya ya udah.
Dulu orang tua itu, selain nyebut alhamdulillah suka disambung dengan ucapan "rezeki anak, lumayan." kalau lagi dapet rezeki yang gak disangka-sangka. Tentu itu niru dari orang2 yang terdahulu, cuman gak dipahami maksud dan tujuannya ngucapin kaya gitu.
Itu sebenarnya lagi ngingetin bahwa rezeki yang didapet semacam itu, memang milik anak yang sekadar minta dicairkan melalui orangtuanya. Mungkin itu anak belum lama minta digantiin hengponnya yang sudah terlalu jadul. Malu sama temennya, barangkali.
Saat anak minta beliin hengpon yang baru, orang tuanya bilang : "nanti ya kalau umi/abi dapet rezeki, mangkanya sholat yang rajin bantuin do'a." Lah mancanan sudah dapet, lupa masa. Malah mengklaim rezeki anak sholeh/sholeha. Sudah tua masih mengklaim sebagai anak.
Alih-alih itu rezeki disalurkan kepada yang berhak menerimanya, "seperti biasa" malah bikin pembenaran. Gak kudu semua keinginan anak diturutin. Ntar kebiasaan, bisa jadi kolokan. Mungkin Tuhan diatas sana mesem melihat perilaku kamu. Anak disuruh rajin sholat, kita khianat.
Kalau mau nego, saat awal itu anak minta. Jangan sudah kepilih lupa sama rakyat. Lah kenapa mengsong ke pilpres. Dari awal bicarakan baik buruknya, azas mangfaatnya dgn lemah lembut penuh kasih sayang. Dah deal, do'a bersama deh. Kalau sudah dapet rezeki, kudu amanah. Gicuh.
Kita marah sama koruptor, padahal (budahal kata tuan Wahai) kitanya sendiri juga korupsi. Korupsi rezeki anak sendiri. Seperti biasa yang namanya korupsi gak berkah, itu duit bisa abis lagi dipakai buat selingkuh.
Biasanya sih gituh.
Wahai para status selingkuh. Boleh jadi kamu punya masalah disini. Gak amanah sama anak sendiri. Tuhan tidak cuman nitipin anak ajah, juga nitipin rezekinya. Berhentilah selagi bisa. Saya ngeliat lagi ada yang sedang berada diujung perceraian. Maafin oum Andi ya ?
Komentar
Posting Komentar