Relasi Karma

Konsep reinkarnasi dan karma itu berlaku umum, hukum kehidupan universal bagi seluruh mahluk hidup, terutama bagi manusia. Budaya dan agama menjelaskannya sesuai kearifan lokal dimana budaya dan agama tersebut dilahirkan dan dikembangkan. Timbul masalah manakala terjadinya pertukaran budaya dan agama yang tidak dilakukan dengan bijak. Ditelan bulat-bulat tanpa sentuhan pemahaman/selera lokal. Apalagi kalau sudah ngomongin beragama kudu kaffah. Ya..gak cocok, dipaksain jadi nganeh.

Contoh yang bisa bikin bingung bagi pembelajar agama tentang amalan yang dapet menghapus dosa yang akan datang : "Dosa yang akan datang diampuni." Lah belum berbuat dosa kok dah diampuni ? Diputer2 gimanapun gak bakalan bisa masuk akal. Gak bakalan ketemu penjelasannya. Untuk kasus seperti ini biasanya jawaban akhir : gak ada yang mustahil bagi Allah. Dalam konsep agama itu gak salah sih namanya juga sistem kepercayaan, yak cuman itu gak ngejawab pertanyaan. Percaya sukur, gak percaya kafir.

Memahami ayat-ayat atau hadits-hadist semacam ini (diampuni dosa yang akan datang) kudu dengan pendekatan konsep reinkarnasi dan karma. Salah dan dosa dalam konsep reinkarnasi dan karma itu "hanya" berkaitan dengan interaksi antar mahluk. Itu dasar perhitungannya. Si A mungkin punya utang dosa sama si B, si B mungkin punya utang dosa sama si C, si C mungkin punya utang dosa sama si A, pada past life. Kelahiran, reinkarnasi sekarang kudu menyelesaikan utang-piutang dosa mereka. Prinsipnya impas. Termasuk utang nyawa. Karena gak tau past life yang mendasari takdir kehidupan sekarang ini, kadang saat menyelesaikan utang-piutang dosa bisa berlebihan. Ini disebut karma baru, yang akan diperhitungkan kembali nantinya. Bisa dikehidupan yang sama, bisa saat reinkarnasi nanti. Budaya dan agama wanti-wanti sudah ngingetin, beri maaf orang yang berbuat buruk kepada kita. Karena bisa jadi kita lagi bayar utang karma buruk, dosa kita lagi dikurangin. Interaksi karma membuat kita diperlakukan buruk bisa pula diperlakukan baik. Kita juga melakukan itu.

Nah, kalau kita berdosa sama si fulan kemudian atas nama relasi kuasa si fulan membalas keburukan kita secara berlebihan, itu yang dimaksud Tuhan sudah mengampuni dosa yang lalu dan dosa yang akan datang (karena sudah berlebihan menerima balasan dari si fulan). Posisinya berbalik, yang semula punya utang dosa menjadi punya piutang dosa yang setiap saat bisa dicairkan. Dalam relasi kuasa, kitanya yang jadi berkuasa sama si fulan. Si fulan berubah jadi ketakutan sama kita. Takut dibales tanpa dimengertinya. Itu yang terjadi.

Dikeseharian hidup, tidak sedikit seorang lelaki yang sangat dihormati dan ditakuti oleh orang2 sekitar, terutama sama anak buah/pegawainya. Tapinya sama bininya takut setengah mati, masa. Kita bisa mencari jawaban dgn segala pendekatan, tapi ini gak lepas dari masalah karma. Kalau bayar karmanya berlebih taruh kata ntu sekretaris sampe bunting, relasi kuasa berbalik, bosnya yang jadi ketakutan. Bisa diperas deh itu si bos koplak sama sekretarisnya. Rasa takut pada seseorang kemungkinan besar karena utang karma masa lalu (dosa kepadanya), intinya itu.

Om Andi gimana katanya soal ketika orang dilahirkan tidak membawa dosa bawaan? Kalau karma gini berarti kayak manusia itu ada "bawaannya"? Terus Om betul gak kalau Ayah menanggung dosa anak-anaknya? Bukanya kita menanggung dosa masing-masing? Benar saat dilahirkan seorang manusia ibarat lembar kertas yang kosong, tapi kita lupa ntu lembar kertas yang kosong halaman berapa.? Halaman-halaman sebelumnya kan ada isinya (utang-piutang karma). Kehidupan manusia itu ibarat buku yang banyak halamannya.
Dalam Al-qur'an ada disebutkan kalau semua manusia punya kitabnya masing - masing. Mosok satu kitab isinya cuman satu halaman doang. Kayak ucapan selamat ulangan taon dong. Atau undangan perkawinan. Kondangan mulu, kapan ngundangnya. Alam semesta prinsipnya sama. Memahami satu pola bisa memahami pola yang lainnya. Reinkarnasi itu ibarat bangun dari tidur. Kan gak mungkin yak, pas bangun tidur utang lunas juga tagihan impas. Orangtua bisa turut "menanggung" dosa anaknya kalau tidak peduli sama anaknya, tidak mengingatkan dan mencontohkan yang baik. Apalagi mengajarkan kebencian kepada anaknya.

Disamping itu, sesorang dilahirkan pada satu keluarga selain dorongan karma past life yang kuat, juga ada kemiripan skenario kehidupannya. Orangtua yang sering ribut, kemungkinan besar itu anak jika berkeluarga nanti akan mengalami sering ribut juga. Orangtua yang bercerai, anaknya punya potensi yang besar akan bercerai. Lahir pada satu keluarga dimaksudkan agar bisa mengantisipasi kemungkinan besar yang akan dialaminnya. Manusia diberi kekuatan untuk mengubahnya. Mengembangkan yang baik, menghentikan yang buruk.

Komentar

Postingan Populer