Ikatan dan Interaksi Karma
Kadang kita lupa dengan adanya ikatan darah, ikatan keluarga, ikatan masyarakat, ikatan budaya dan agama, ikatan bangsa. Ikatan manusia. Lupa adanya ikatan perkawinan, ikatan masyarakat, ikatan agama, ikatan bangsa ikatan kemanusiaan. Juga lupa saling terkait satu sama lain. Kalau semua memaksakan kehendak, kayak agustusan. Tarik menarik kepentingan, saling menyakiti diri. Hadiahnya gak seberapa.
Suami maunya begini, istri maunya begitu. Orangtua maunya begini, anak maunya begitu dan sebagainya. Saling menarik egonya masing - masing, yang satu kekanan yang satu kekiri, yang satu maunya berjalan yang satu maunya lari. Saling tarik menarik kepentingan, yang pada gilirannya saling melukai. Suami-istri ribut, yang satu mau kesana yang lainnya mau kesini, main tarik-tarikan. Lupa bahwa suami istri terikat dalam satu perkawinan. Ikatan rumah tangga. Keukeuh merasa dirinya yang benar, ikatan perkawinan yang melindungi, salah - salah jadi menyakitkan.
Suka tidak suka, nyadar atau gak, kita semua terikat dan terkait dengan satu dan lainnya dalam kehidupan ini. Kita terikat dengan istri atau suami yang juga terkait dengan mertua dan ipar serta keluarga besar lainnya. Lebih luas lagi, kita terikat dan terkait sebagai satu masyarakat dan satu bangsa. Agama pun dimaksudkan agar kita menjadi terikat dan terkait dalam satu agama dan satu kemanusiaan sebagai warga dunia. Bisa juga kita terikat dan terkait sebagai fans sepak bola yang lebay.
Keterikatan dan keterkaitan itu sering menyakitkan. Seperti dalam foto (* dibawah) yang diperagakan oleh Si Fuad dengan Si Fulan, tangan mereka diikat kemudian mereka maen tarik-tarikan. Sampai lecet, bahkan berdarah-darah ingin egonya diturutin oleh yang terikat dan terkait. Bayangkan tambahkan lagi disisi Si Fuad (keluarganya) dan disisi Si Fulan (keluarganya) yang juga terkait perkawinan antara Fuad dgn Fulan. ( Fuad dan Fulan terikat perkawinan). Mereka maen tarik2an persis lomba tarik tambang agustusan. Kalau sama kuat bisa muter jadinya.
Itu dalam satu keluarga, dalam masyarakat ? Dalam berbangsa dan bernegara ? Sama ajah ! Tanpa disadari barangkali sudah banyak pergelangan tangan yang sudah lecet, perih tauk. Apakah keterikatan dan keterkaitkan itu begitu menyakitkan.? Tergantung kamunya. Jangankan suami dengan istri, keterikatan saat masih pacaran saja bisa sangat menyakitkan. Gak boleh inilah, gak boleh itu lah. Dah gak bebas, blas Om Andi! Tidak sedikit orang yang menderita karena terikat perkawinan bahkan terikat saat pacaran. Ikatan dan keterikatan itu yang dimaksudkan baek, salah-salah bisa jadi nyakitin. Mencegah salah jalan, ditarik diselamatkan agar kembali kejalurnya yang sesuai, misalnya. Paling tidak mencegah jangan sampe ketabrak ojeg lah Om.
Kagak kudu meriksa apa isi hp nya. Itu mah gak percaya, gak ada kaitannya dengan ikatan kasih. Sekadar ikatan ego. Ikatan itu kudu berdasarkan saling percaya, kita mau terikat karena percaya kalau ikatan itu bisa menyelamatkan dan membahagiakan kita. Sesuai anagram KITA ada KIAT. Kiatnya kalau terikat dan terkait, haruslah seiring, sejalan, seirama dan setujuan ! Bareng2 jalannya, seiring sejalan. Gak maen dulu-duluan atau lambat-lambatan kudu seirama. Dan tentu saja setujuan untuk apa kita mau mengikat diri.
Ada ikatan yang tidak bisa dan gak bole diputuskan yaitu ikatan darah ! Orangtua dgn anak, kakak dengan adik dan semacamnya. Itu ikatan yang kita bawa dari alam jiwa. Takdir. Suami istri cuma ikatan janji sehidup semati, tapi bisa/boleh diputuskan jika sudah saling nyakitin. Meskipun (ikatan) aer mani lebih kental dari pada (ikatan) darah, tapi suami istri belum tentu ikatan dari alam jiwa. Apalagi cuman baru sekadar pacar doang. Dah putusin ajah kata Om. (Kalo nyusahin). Tentu ajah setelah dibicarakan baek-baek tanpa bawa-bawa emosi. Jangan cepat-cepat menarik kesimpulan dan mengambil keputusan. Gak boleh mengambil keputusan kalau lagi marah. Tinggal tidur ajah dulu, kali besok pagi ada perubahan.
Nah bagi yang "terpaksa" kudu mutusin ikatan. Lepaskan lah ikatan dengan baik-baik dan cara yang baik. Dan ini yang paling penting, sisa ikatan yang ada dipergelangan tangan, juga lepaskan. Biarkan pergelangan tangan yang lecet sembuh dengan sendirinya. Seseorang tidak bisa move on karena sisa tali ikatan yang ada dipergelangan tangannya belum dilepas. Itu ! Malah dijadikan hiasan sebagai gelang tangan. Selain inget terus bisa menimbulkan infeksi, benci dan dendam kesumat.
And last but not least, sebagai manusia kita terikat dengan dosa dan pahala kita. Lepaskanlah ikatan dengan dosa2 kita dan terikatlah dengan pahala2 kita. Itu yang ingin disampaikan oleh jiwa kita yang terikat oleh raga kita sampai jiwa kita melepaskan ikatannya pada jiwa kita. Sampai jiwa kita melepaskan ikatannya pada raga kita, maksudnya gitu, matek.
~ by Oum Andi

Komentar
Posting Komentar