Alam Jiwa Pemula
Orang-orang dengan jiwa tingkat awal biasanya masih labil. Mereka masih membutuhkan bantuan dan pendampingan khusus dalam menjalani kehidupan. Orang-orang dengan jiwa tingkat awal biasanya masih labil. Mereka masih membutuhkan bantuan dan pendampingan khusus dalam menjalani kehidupan.
Selain itu, yg tercermin dari jiwa level ini adalah sikap sering mementingkan ego sendiri dan sulit menerima orang lain apa adanya. Masih haus ingin dipuji, ingin dielu-elukan, dan haus pengakuan. Hayooo... siapa yg masih begini hayooo. Jiwa yg belum dewasa cenderung mudah silau dengan gegap gempita gemerlap dunia: harta, tahta, wan..., eh nganu...
hmmm... popularitas, prestise, gengsi, dan lain sebagainya.
Ciri-ciri lainnya adalah kurangnya sikap murah hati dan kurang bertanggung jawab. (Jadi, bersyukurlah Anda yang kini memiliki sifat murah hati dan memiliki kesadaran penuh untuk memikul tanggung jawab. Jaga dan rawatlah. Meski demikian, kita tidak boleh memberi stigma negatif kepada jiwa-jiwa level pemula, sebab banyak juga jiwa pemula yang memiliki catatan apik dalam perjalanan perkembangan jiwanya. Jika tidak, maka tidak mungkin ada jiwa yang tumbuh.
Jiwa-jiwa tua dan bijak yang sudah di level advanced pun merupakan pemula pada awalnya. So, jangan pernah putus asa untuk terus memperbaiki diri, karena..
"Setiap orang suci punya masa lalu dan setiap pendosa punya masa depan” ~ Oscar Wilde. Jiwa pemula sangat mungkin untuk mengalami kebingungan & ketidakefektifan dalam menjalani inkarnasi, dikarenakan masih minim pengalaman, juga karena kondisi & situasi Bumi sangat berbeda jauh dengan alam jiwa. Kehidupan Bumi penuh dengan disharmoni & ketidakberaturan, sedang alam jiwa sebaliknya.
Kecepatan belajar tiap-tiap jiwa berbeda-beda. Beberapa jiwa akan berkembang lebih cepat dibanding yang lain. Kemampuan jiwa untuk mempelajari pelajaran2 tertentu berbeda antara yang satu dengan yang lain. Hal ini bergantung pada bakat, motivasi, dan pengalaman kehidupan. Sebagaimana sudah disinggung di awal, ada jiwa-jiwa yang sulit naik tingkat. Jiwa-jiwa yang sulit naik tingkat ini biasanya terganjal oleh ketidakmampuannya dalam menaklukkan ekses negatif dalam dirinya.
Ada yang tidak kunjung naik tingkat karena tidak mampu menghilangkan sifat iri, dengki, (pe)marah, fanatik, serakah, suka berbohong, zalim, sering adu domba, ndak bisa jaga mulut + jempol, dan sifat-sifat buruk lainnya. Oleh karenanya, mari coba kita lihat ke dalam diri kita masing2: kira2 sifat apa yang hingga kini menghalangi kita untuk maju, jangan2 sifat negatif tersebutlah yang selama ini menjadi tembok penghalang kita dalam meraih perkembangan dan kesuksesan.
Selain terganjal sifat negatif, jiwa juga bisa memiliki kecenderungan untuk memilih lingkungan atau jenis kehidupan inkarnasi yang kurang tepat sehingga membuatnya tidak dapat bekerja secara baik dan maksimal. Akibat pilihan buruk ini, entitas jiwa bisa mengalami kerusakan. Biasanya, ia pulang ke alam jiwa dengan penuh luka, seperti baru pulang dari peperangan. Tepat atau tidaknya pilihan-pilihan kehidupan saat inkarnasi tetap mengharuskan jiwa untuk bertanggung jawab atas apa-apa yang pernah mereka lakukan. Karma itu nyata, kawan.
Sekian dulu untuk malam ini, besok Insya Allah kita lanjut lagi.
Semoga bermanfaat..
*to be continued*
Komentar
Posting Komentar