Alam Jiwa Pemula Lanjutan
Baiklah, Sobat Alam Jiwa... Markijut. Mari kita lanjut. Sebab, perjalanan kita masih panjang.
You know what... “The journey is never ending. There's always gonna be growth, improvement, adversity; you just gotta take it all in and do what's right, continue to grow, continue to live in the moment” .
~ Antonio Brown
Masih soal jiwa muda dan tingkat pemula.
Bila ditinjau dari segi jumlah, dibanding dengan jiwa-jiwa tingkat lanjut, jiwa-jiwa tingkat pemula yang ada di Bumi jumlahnya lebih banyak.
Dalam analisis Newton, yang menyebabkan tingginya persentase jiwa tingkat awal adalah tingginya angka pertumbuhan penduduk dunia, hal ini menyebabkan tingginya kebutuhan akan jiwa-jiwa baru bagi bayi-bayi yang baru lahir.
Lalu Newton memiliki anggapan kuat bahwa mayoritas jiwa yang mendiami tubuh manusia saat ini adalah jiwa-jiwa yang berada di tingkatan awal (beginner).
Anggapan Newton ini didasarkan pada pengamatannya atas fenomena global yang masih banyak didominasi oleh kesalahpahaman, benturan horizontal, dan keributan-keributan lainnya. Walaupun demikian, Newton percaya bahwa tiap abad selalu membawa peningkatan kesadaran (jiwa) manusia.
Oke, lupakan soal jumlah. Selanjutnya, mari kita bahas bagaimana jiwa menampilkan dirinya di alam jiwa ketika saling berinteraksi dengan jiwa lain.
Sudah pernah saya sampaikan bahwa pada prinsipnya jiwa bersifat androgini. Di alam jiwa, para jiwa bebas memilih untuk menampilkan diri baik sebagai laki-laki maupun perempuan.
Mengapa demikian? Jenis kelamin bukanlah faktor penting. Jiwa memiliki kebebasan untuk memilih jenis kelamin, baik saat berinteraksi dengan jiwa lain (di alam jiwa), atau saat hendak melakukan inkarnasi di Bumi. Saat berinteraksi dengan jiwa lain, jiwa dapat hadir sebagai massa energi, juga bisa hadir dalam bentuk manusia.
Jiwa sering menggunakan kemampuannya untuk memproyeksikan dirinya dalam bentuk fisik ketika saling berkomunikasi satu sama lain.
Mengapa demikian? Jenis kelamin bukanlah faktor penting. Jiwa memiliki kebebasan untuk memilih jenis kelamin, baik saat berinteraksi dengan jiwa lain (di alam jiwa), atau saat hendak melakukan inkarnasi di Bumi. Saat berinteraksi dengan jiwa lain, jiwa dapat hadir sebagai massa energi, juga bisa hadir dalam bentuk manusia. Jiwa sering menggunakan kemampuannya untuk memproyeksikan dirinya dalam bentuk fisik ketika saling berkomunikasi satu sama lain.
Biasanya jiwa memvisualisasikan dirinya menjadi sosok yg paling ia senangi saat inkarnasi. Meskipun begitu, jiwa juga dapat menampilkan dirinya sebagai sosok yg tak pernah ia perankan sewaktu inkarnasi. Memori saat inkarnasi di Bumi (atau planet lain) memberi kesan yang mendalam kepada para jiwa, sehingga bentuk-bentuk fisik yang pernah mereka huni saat inkarnasi menjadi salah satu pilihan visualisasi di alam jiwa.
Sosok tamvan, cantique, gagah, bahenol, dan lain sebagainya adalah pilihan-pilihan visualisasi jiwa yang lumrah dan biasa.
Bagaimana jiwa menampilkan diri satu sama lain saat berinteraksi seringkali ditentukan oleh apa yang jiwa rasakan pada saat itu, relasi yang dimiliki dengan yang bersangkutan, dan di mana posisi mereka saat itu. Konteks berperan besar di sini. Dua jiwa yang pernah berperan sebagai sepasang suami-istri di Bumi memiliki kemungkinan besar menampilkan diri mereka seperti saat inkarnasi, terutama ketika kehidupan di Bumi memberikan kesan positif yang sangat mendalam bagi keduanya. Jiwa-jiwa yang memiliki relasi sangat dekat dengan jiwa lain saat inkarnasi, seperti peran sahabat karib, orang tua-anak, guru-murid, tetangga, saudara kandung, dan lain sebagainya juga sangat berpotensi menampilkan dirinya sebagaimana di Bumi.
Jiwa adalah energi berkecerdasan. Memvisualisasi diri menjadi manusia hanyalah salah satu dari sekian banyak cara/kemungkinan yang tak terbatas bagi jiwa dalam menampilkan dirinya di hadapan jiwa lain. "Lalu, kalau jiwa adalah energi & bukan entitas fisik, apakah jiwa bisa saling berpelukan seperti teletabis, Oum ?" Bisa, dek. "Gimana caranya, Oum Andi?" Jiwa bisa saling memeluk dengan cara saling menyelimuti dengan cahaya. Berpelukan seperti ini bagi jiwa seperti dihangatkan dengan selimut cinta. Terkait visualisasi diri di alam jiwa, saat masih muda biasanya jiwa-jiwa lebih cenderung suka menunjukkan/memamerkan sisi terbaik (penampilan) mereka saja. Mereka sangat suka menampilkan diri seperti sosok yang mereka senangi.
Dalam pandangan jiwa tingkat lanjut, hal yang demikian ini tampaknya karena jiwa-jiwa muda dan pemula masih belum paham bahwa hal terpenting adalah apa yg kita perjuangkan, bukan cara kita menampilkan diri. Meskipun begitu, yang dilakukan oleh jiwa-jiwa muda tersebut sah-sah saja. Perlu kita ketahui bahwasanya tiap-tiap jiwa di alam jiwa tidak akan dihakimi secara subjektif dan personal oleh jiwa lain sebagaimana kita biasa menghakimi manusia lain saat di Bumi. Jiwa-jiwa tidak diciptakan sempurna, selain dapat tumbuh dan berkembang, para jiwa juga dapat melakukan kesalahan-kesalahan dan terkontaminasi oleh bentuk-bentuk kehidupan yang mereja jalani sewaktu inkarnasi.
Kontaminasi-kontaminasi (negatif) ini dapat diredusir oleh kepedulian, support, dan kasih-sayang dari rekan-rekan satu kelompok jiwa dan juga pembimbing mereka. Layaknya kita di Bumi yang berkelompok sesuai dengan garis dan ruang lingkup keluarga masing-masing, jiwa juga berkelompok sesuai dengan tingkatan-tingkatannya. Tanpa memerhatikan lamanya waktu setelah penciptaan, semua jiwa pemula ditugaskan ke dalam sebuah kelompok jiwa yang baru. Ketika sebuah kelompok jiwa baru telah terbentuk, tidak akan ada lagi anggota baru yang masuk ke dalamnya.
Yang sering jadi pertimbangan dalam pengelompokkan jiwa biasanya dari faktor kemiripan ego, kesadaran kognitif, bentuk ekspresi, dan kemiripan hasrat dari anggota-anggota kelompok itu. Jiwa-jiwa yang digabung dalam satu satu kelompok biasanya adalah jiwa-jiwa yang memiliki karakter sama. Meski begitu, tiap-tiap jiwa masih memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing yang tidak lain adalah identitas dan “sidik jari” mereka. Jiwa-jiwa muda tingkat pemula dikelompokkan dengan entitas jiwa lain yang selevel dengan mereka. Keanggotaan kelompok ini bisa terdiri dari 5 (lima) sampai 25 (dua puluh lima) anggota jiwa. Kelompok jiwa dirancang dengan maksud agar antar anggota jiwa dapat saling memberi dukungan satu sama lain; saling bersosialisasi dan belajar satu sama lain; saling memengaruhi secara positif satu sama lain; saling menguatkan satu sama lain.
Lamanya proses untuk menjadi sempurna dan beratnya pelajaran kehidupan dalam inkarnasi demi inkarnasi menyebabkan jiwa butuh banyak sosok untuk membantu meringankan dan menopang beban yang dipikul. Jiwa-jiwa dalam satu kelompok sering menjadikan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka buat saat di Bumi sebagai bahan candaan. Ya, jiwa juga suka bercanda dengan teman-teman anggota kelompoknya.
Tak ada ketertutupan bagi jiwa, pun tak ada yang ditutup-tutupi. Mereka mengetahui total kondisi objektif dari tiap-tiap anggota kelompok. Tak ada rasa malu, yang ada hanyalah keinginan besar untuk terus memperbaiki kesalahan dan terus berkembang. Keterbukaan yang ada di dalam kelompok jiwa ini merupakan terapi spiritual bagi jiwa untuk menerima diri mereka secara apa adanya. Umpan balik yang jujur, saling percaya, saling peduli, dan hasrat untuk berkembang merupakan kunci meraih kematangan dan kedewasaan.
Saling memberi kritik dan pujian adalah hal biasa yang dilakukan oleh para jiwa di dalam kelompoknya. Mereka menerimanya dengan hangat. Tak ada serangan personal yang berlandaskan kebencian. Yang ada hanyalah rasa saling peduli dan saling membantu untuk terus tumbuh. Model interaksi dalam kelompok jiwa seperti ini memiliki dampak penyembuhan yang signifikan, terutama bagi jiwa-jiwa muda dan pemula. Dukungan dan support dari teman satu kelompok serta arahan pembimbing adalah hal yang sangat berarti. Pembelajaran sering datang melalui diskusi di dalam kelompok jiwa sembari diawasi dan diarahkan oleh pembimbing.
Kemampuan jiwa dalam menguasai pelajaran-pelajaran tertentu akan berbeda antara jiwa yang satu dengan yang lain. Ada yang lambat, ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang cepat. Bila ada salah satu anggota jiwa yang sudah layak untuk naik kelas, maka jiwa itu akan meninggalkan kelompok lamanya dan bergabung dengan kelompok baru yang levelnya berada di atasnya. Jadi, sekali lagi, pengelompokkan jiwa didasarkan pada pencapaian kematangan dan kedewasaan, bukan dari usia dan lamanya diciptakan. Tak ada kebencian, permusuhan, rasa curiga, penghakiman, dan penghinaan di alam jiwa. Yang ada hanyalah cinta, saling menghormati, dan usaha untuk menjadi diri yang lebih baik lagi. Tak ada rahasia di antara jiwa. Tak ada yang harus ditutup-tutupi.
Kritik terbesar bagi jiwa bukanlah kritik yang datang dari entitas jiwa lain, melainkan kritik yang lahir dari dalam diri mereka sendiri.
Jiwa terkadang berkecil hati dan merasa bahwa ia kurang memiliki kemampuan untuk berkembang. Nah, di sinilah peran pentingnya teman kelompok dan pembimbing jiwa yang bertugas untuk memberi dukungan, menyemangati, dan terus menguatkan. Umumnya, jiwa-jiwa yang masih muda sering menjalani (setidaknya) lima inkarnasi awal dengan teman-teman satu kelompok yang masing-masing berperan sebagai anggota keluarga atau teman dekat selama di Bumi. Selain belajar secara berkelompok, jiwa juga sering menyendiri untuk melakukan refleksi dalam keheningan. Selain belajar dalam keramaian, jiwa juga belajar banyak dari kesunyian.
Jiwa tingkat pemula secara berkala dipisahkan dari kelompoknya oleh pembimbing untuk melakukan tugas individu dalam proyek-proyek energi sederhana, seperti tugas merangkai puzzle tiga dimensi berbentuk silinder, bulat, kubus, dan bujur sangkar yang menghasilkan energi tertentu. Selain tugas seperti puzzle, jiwa-jiwa muda juga ditugaskan untuk memecahkan "soal-soal" teka-teki multidimensi yang nampak berwarna-warni dan nampak hidup seperti hologram. Saya membayangkan jiwa-jiwa usia muda itu layaknya anak-anak manusia di Bumi yang diberi berbagai jenis mainan oleh kedua orang tuanya.
Tugas-tugas individu ini tak lain adalah untuk melatih fokus masing-masing jiwa. Dan pembimbing jiwa akan mengawasi sambil menilai tingkat kreativitas, imajinasi, dan kecerdikan jiwa dalam menyelesaikan tugas. Pembimbing jiwa akan selalu memberi dorongan dan semangat, bukan menyalahkan dan menjatuhkan penghakiman. Di alam jiwa, para jiwa sangat menyadari betapa Bumi adalah panggung sandiwara yang besar. Mereka melihat diri mereka sendiri sebagai aktor-aktor yang bermain dalam pementasan akbar. Ujian inkarnasi bagi jiwa-jiwa yang datang ke Bumi, salah satunya adalah untuk menaklukkan rasa takut dalam tubuh fisik manusia. Jiwa dilatih untuk berani mengahadapi tantangan dan berbagai cobaan. Jiwa berkembang dengan mencoba mengatasi semua perasaan negatif melalui ketekunan dalam kehidupannya.Saat kita merasa bingung, marah, dan benci terhadap satu momen dalam kehidupan berarti masih ada sisi dari jiwa kita yang belum berkembang. Kita harus mengatasinya. Bila merasa tak mampu memikul sendirian, mintalah pertolongan. Jangan malu, jangan segan.
Hal terpenting dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan adalah senantiasa mengakui kesalahan-kesalahan, menyadari kekurangan, menghindari pengingkaran diri, dan terus berani membuat penyesuaian-penyesuaian dalam pilihan-pilihan yang tersedia di depan mata. Pada akhirnya, hal-hal negatif yang tidak dapat tertangani lagi dalam banyak inkarnasi dan kehidupan, dapat disesuaikan kembali di alam jiwa.
Sebab....
Di alam jiwa tak ada ketakutan dan perasaan terancam. Alam jiwa adalah tempat penuh kesabaran, pertolongan, dan juga semesta cinta serta kasih sayang. Sekian dulu utk topik Jiwa Pemula (Beginner Soul) di malam ini. Pada kesempatan selanjutnya kita akan sama - sama belajar tentang tingkatan jiwa di atasnya, yakni Jiwa (Level) Menengah (Intermediate Soul). Semoga ada manfaat dan membawa keberkahan.
Damai dan bahagia selalu.
Salam
Komentar
Posting Komentar