Jiwa Tingkat Menengah (Intermediate Soul)
"It is possible to see the intermediate state between lives as being in a way more important than incarnate existence” ~ Stanislav Grof.
Ketika jiwa sudah masuk ke level menengah (intermediate level), ia secara teknis sudah dianggap lulus dari level 2 (beginner) dan mulai menapaki level 3 (untuk terus berkembang ke level 4). Di tingkat ini, intensitas interaksi jiwa dengan anggota-anggota kelompoknya sudah mulai berkurang. Udah mulai jarang nge-chat di grup WA, jarang update status, apalagi instastory.
Selain mengurangi intensitas interaksi dengan anggota-anggota kelompok, jiwa di level ini juga mulai mengurangi intensitas inkarnasi. Jadi tambah jarang turun ke Bumi, soalnya tiket pesawat tambah mahal, bagasi bayar..eeh.
Intensitas inkarnasi menjadi tidak sesering sebelumnya, yakni sewaktu ia masih di level pemula (beginner). Hal ini dikarenakan ia sudah mulai (dianggap) mencapai kedewasaan dan pengalaman yang cukup untuk mengemban tugas secara independen.
Di level menengah (3 & 4), jiwa sudah siap untuk memikul tugas dan tanggung jawab yang lebih berat. Hubungan jiwa tingkat ini dengan pembimbingnya sudah tidak lagi seperti guru dan murid, melainkan sudah lebih sejajar seperti hubungan antarkolega yang bekerja sama. Hubungan yang bersifat antarkolega ini dikarenakan pembimbing jiwa yang lama telah diamanati murid-murid baru dan jiwa-jiwa yang telah masuk ke level 3 mendapatkan pembimbing baru yang levelnya lebih tinggi dari pembimbing sebelumnya.
Kayak mahasiswa aja, sewaktu S1 dibimbing dosen lulusan magister. Naek tingkat jadi mahasiswa S2, yang bimbing jadi pak doktor. Selain mendapat pembimbing baru, jiwa level menengah juga mulai diarahkan untuk mengembangkan keahlian untuk membimbing dan mengajar. Ya, semacam regenerasi.
Namun, transisi menuju status pembimbing di level ini tidaklah rigid. Maksudnya gimana?
Newton menemukan: ada jiwa-jiwa level 4 yang sudah membimbing dengan baik dan sudah menjalani pelatihan sebagai pembimbing sejak di level 3, akan tetapi... ada juga yang belum bisa bekerja secara baik sebagai pembimbing meski sudah berada di level yang sama (4).
"Dari sisi ciri-ciri, jiwa level menengah ini bagaimana, Oum?" Sini, dek..Oum bisikin.
Berbeda dengan saat masih di level sebelumnya (1 & 2), jiwa-jiwa di level menengah sudah mulai memiliki standar moral dan standar perilaku yang cukup tinggi. Mereka mulai memiliki sikap rendah hati, menjadi lebih sabar, dan lebih tenang. Jiwa-jiwa level menengah mulai memiliki rasa peduli dan optimisme terhadap masa depan kemanusiaan. Vibrasi “inspiratif”-nya juga mulai bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Wajar... karena jiwa sudah mengalami banyak perkembangan. Sudah mulai rendah hati dan gak sombong lagi. Seperti padi... Semakin berisi, semakin merunduk.
Level menengah merupakan posisi level yang signifikan bagi para jiwa, karena mereka mulai diberi tanggung jawab lebih dibanding di level sebelumnya. Mereka mulai dilatih dan diarahkan untuk menjadi pembimbing jiwa sebagaimana senior-senior mereka. Namun, mendapatkan status “pembimbing” tidaklah mudah. Status tersebut tidak didapat dengan instan. Ada banyak tahapan, proses, dan ujian yang harus dilewati.
Mereka akan mulai diberi amanat untuk membimbing jiwa-jiwa yang masih muda dan levelnya jauh di bawah mereka. Nantinya, pembimbing mereka (si calon-calon pembimbing ini) akan menilai dan mengevaluasi kinerja mereka sebagai CPNS, eh calon pembimbing. Seiring berjalannya proses... jika serangkaian tes ini dijalani dengan baik dan dianggap sukses, maka mereka akan diangkat statusnya menjadi “pembimbing junior”.
Perlu kita ketahui bahwasanya tidak semua jiwa cocok menjadi pembimbing. Seperti halnya: tidak semua murid cocok menjadi guru. Dan tidak semua mahasiswa cocok menjadi dosen. Ada yang cocoknya jadi presiden. Ehh...
Ada banyak jiwa yang cukup tua usianya dan tinggi levelnya tetapi tidak mengemban tugas sebagai pembimbing. "Gabut, Oum?" Nga.
Tidak menjadi pembimbing tidak akan menghalangi mereka untuk mencapai kedewasaan sempurna. Karena nantinya, ketika jiwa memasuki tingkat/level 5, akan ada spesialisasi atau penjurusan keahlian. Ada yang memiliki keahlian untuk membimbing, ada juga yang memiliki keahlian lain. Terkait spesialisasi keahlian jiwa ini nanti insya Allah akan kita bahas di topik Jiwa Tingkat Lanjut (Advanced Soul). Sabar aja.
Jiwa level menengah yang sudah siap untuk mulai membimbing jiwa-jiwa pemula biasanya ditandai dengan munculnya kesadaran dalam diri mereka bahwa mereka telah menjadi lebih seimbang (balanced) dibanding sebelumnya.
Hal ini bisa muncul karena mereka telah mengais banyak pengalaman kehidupan fisik melalui perjalanan inkarnasi demi inkarnasi. Mereka juga sudah memiliki kapabilitas mumpuni untuk membantu entitas lain, baik sebagai jiwa maupun sebagai manusia dalam kehidupan fisik.
Jiwa level menengah inilah yang juga membantu Newton mendapatkan informasi tentang Dunia Bebas Waktu (The World of Altered Time). Apa itu? Dunia bebas waktu adalah dunia tiruan yang diperuntukkan bagi setiap jiwa yang melakukan inkarnasi.
Bagi jiwa-jiwa yang mendapat jatah inkarnasi di Bumi, maka Dunia Bebas Waktu-nya adalah sebuah dunia yang mirip sekali dengan Bumi. Dunia ini merupakan lokasi untuk melakukan latihan dan trial sebelum mereka menjalani inkarnasi sungguhan.
Demikian pula dengan jiwa-jiwa yang mendapat jatah kehidupan inkarnasi di planet-planet lain, maka Dunia Bebas Waktu-nya adalah dunia tiruan yang menyerupai tempat mereka berinkarnasi. Semacam KW 1 atau Grade Ori-nya (planet) tempat inkarnasi. Fungsinya tidak lain adalah untuk simulasi. Para jiwa akan mempelajari kondisi geografis planet bersangkutan beserta segala hal yang berkaitan dengannya. Biar gak kaget. Test drive.
Jiwa-jiwa yang mendapat kupon inkarnasi ke Bumi akan mempelajari seluk-beluk Bumi melalui Dunia Bebas Waktu ini. Mereka menyusuri hutan, melintasi gurun, menyelami lautan, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang. Mengapa dinamakan dengan Dunia Bebas Waktu (DBW)? Karena di DBW ini para jiwa dapat mengubah urutan waktu sesuka mereka untuk mempelajari peristiwa-peristiwa tertentu. Hal ini sangat penting karena berkaitan dengan kesiapan jiwa untuk reinkarnasi. Jiwa-jiwa yang melakukan inkarnasi adalah jiwa-jiwa yang telah siap dan telah mendapat persetujuan dari pembimbingnya.
Selain Dunia Bebas Waktu, ada satu dunia lagi yang mulai dikunjungi oleh jiwa tingkat menengah, yakni Dunia Penciptaan dan Non-Penciptaan (DPNP/The World of Creation and Non-Creation). "Opo meneh kui, Oum?" Dunia ini biasa dikunjungi oleh para jiwa ketika mereka dalam (masa) jeda inkarnasi. Menurut informasi, dunia (DPNP) ini mirip seperti Bumi hanya agak berbeda sedikit. Bentuknya lebih besar dan lebih dingin. Dibandingkan dengan Bumi, jumlah air dan lautnya DPNP lebih sedikit.
Sesuai namanya, di dunia ini para jiwa berlatih untuk menciptakan sesuatu menggunakan energi jiwa yang mereka miliki. Tempat ini juga sering dikunjungi para jiwa untuk “berlibur”. Mereka bebas mengelilingi DPNP ini tanpa harus memikirkan tanggung jawab. Tak ada kehidupan orang-orang/makhluk berkecerdasan di sana, hanya ada kehidupan binatang-binatang kecil dengan kecerdasan rendah. Suasana di DPNP ini sangatlah murni, tenang, dan nyaman. Di sana tidak ada percekcokan, perkelahian, ataupun keributan, juga tak ada upaya perebutan supremasi sebagaimana halnya yang biasa terjadi di Bumi.
Selain sebagai tempat berlibur, tempat ini juga menjadi semacam tempat refleksi bagi jiwa-jiwa yang berhubungan dengan Bumi. Refleksi yang bagaimana? Setelah mengunjungi tempat ini biasanya muncul dorongan bagi para jiwa untuk kembali ke Bumi dan berkeinginan untuk membuatnya menjadi tempat tinggal yang lebih damai dan enak ditinggali. Refleksi melahirkan motivasi.
Jiwa-jiwa yang berinkarnasi di planet-planet lain selain Bumi juga memiliki DPNP-nya sendiri yang mirip dengan planet tempat mereka berinkarnasi. Fungsinya pun sama, yakni untuk berlatih menciptakan sesuatu melalui energi jiwa.
Di DPNP, para jiwa melakukan eksperimen dalam penciptaan dan memantau perkembangan ciptaannya itu. DPNP ini tak lain merupakan (semacam) laboratorium bagi para jiwa untuk mewujudkan dan membentuk benda-benda fisik dari energi yang mereka miliki.
Di sini jiwa tingkat menengah berlatih membentuk sebuah objek fisik dengan dibantu oleh para instruktur, guru-guru, dan para pembimbing jiwa.
Eksperimen dan latihan jiwa level menengah di DPNP ini belum masuk pada taraf “mencipta”, baru sekadar “membentuk”. “Mencipta” adalah ranahnya jiwa level atas/lanjut dan para tetua (The Elders). Jadi, jiwa-jiwa tingkat lanjut yang memberi bahan bakunya, sedang jiwa-jiwa level menengah yang memproses “adonan”-nya sampai terbentuk menjadi sebuah objek tertentu.
DI DPNP ini jiwa tingkat menengah sekadar mengombinasikan elemen-elemen dasar yang sudah ada agar terbentuk menjadi satu objek, seperti memadatkan debu menjadi batu; menyatukan hidrogen dan oksigen menjadi air; begitupula dengan tanah, udara, dan lain-lain.
Tahapannya adalah belajar membentuk benda-benda mati terlebih dahulu, lalu benda-benda hidup. Skalanya kecil dulu, lalu sedang, lalu skala besar.Sebagaimana jiwa tingkat pemula, jiwa tingkat menengah juga bisa melakukan banyak kesalahan. Hal demikian sah-sah saja, karena kesalahan memang diperlukan sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi. Guru-guru dan pembimbing jiwa akan selalu mengawasi, mengarahkan, memberi nasihat, memberi petunjuk, dan menuntun kepada perbaikan. Latihan dan eksperimen di DPNP ini tujuannya adalah untuk kebaikan para jiwa itu sendiri, yakni agar mereka dapat menjadi jiwa yang memiliki andil dan berkontribusi positif bagi kehidupan semesta.
Yang perlu digarisbawahi adalah... jiwa-jiwa yang mahir di bidang penciptaan belum tentu mahir di bidang pembimbingan. Begitupun sebaliknya. Adapula jiwa-jiwa yang mahir di bidang penyembuhan dan penemuan (invention).
Menjelang memasuki tingkat lanjut, para jiwa biasanya dipersilakan untuk mengambil spesialisasi keahlian masing-masing. Dan akhirnya, jiwa level menengah yg sudah memiliki bakat khusus seperti menyembuhkan, mengajar, membimbing, menemukan, mencipta, dsb... mulai diizinkan utk berpartisipasi, berbaur, dan bekerjasama dengan jiwa-jiwa tingkat lanjut (advanced soul) yang levelnya berada di atas mereka.
Lalu... Bagaimanakah cerita tentang jiwa-jiwa tingkat lanjut (advanced souls) ini?
Nantikan tayangan utas berikutnya.
Sekian dulu, Sobat Alam Jiwa-ku.
Damai selalu.
Salam.

Komentar
Posting Komentar