Jangan Membenci
Gak suka, gak senang, gak apa-apa. Tapi jangan membenci. Apa apa yang kamu benci akan kamu alami nanti. Gak di kehidupan sekarang, akan ngalamin saat reinkarnasi nanti.
Karma itu perbuatan, ada karma baik (perbuatan baik) ada karma buruk (perbuatan buruk). Jadi karma itu kata kerja, apa apa yang dikerjakan pasti akan menuai hasilnya. Semua karma akan menghasilkan buah karma (karmaphala). Lakukanlah yang baik dan tidak melakukan yang buruk.
"Rasain, kena karmanya dia !" Dalam kalimat itu, konotasinya yang disebut karma melulu soal yang buruk. Padahal orang yang dapet rezeki, yang dapat kebahagiaan juga lagi "kena" karmanya, lagi menuai buah karma (karmaphala) akibat perbuatan baik, (karma baik) yang pernah dilakukan.
"Ya Allah itu orang hidupnya beruntung amat, enak beud dah. Karma apa sih yang pernah dilakukan." Nyaris kalimat seperti itu gak pernah terdengar. Boleh jadi ini yang membuat kita tidak bisa meniru keberuntungan seperti keberuntungan yang orang lain dapatkan.
Salah satu penyebabnya sebagian besar umat beragama (samawi) gak percaya sama karma, bahkan ada yang bilang bisa syirik percaya sama yang gituan. Gak ada ajarannya. Kadang kita tuh begitu, gak percaya karma tapi sering ngomong : "rasain, makan deh karma luh".
Om percaya kalau semua agama ada ajaran tentang karma dan karmaphala, bahasanya aja yang berbeda. Kausalitas, sebab akibat, tebar tuai, apa yang kau tanam akan kau tuai. Juga ada dalam agama islam, itu kalau kita belajar agama dengan baik ya.
Semua perbuatan yang kita lakukan, entah itu buruk atau baik pasti akan kita dapatkan hasilnya. Bakalan dapat ganjaran atau balasannya. Kalau gak di dunia ini, hasilnya akan kita dapatkan nanti di akhirat. Masuk surga atau masuk neraka. Bahasa agama samawinya begitu.
Sama dengan agama ardhi, balasan semua perbuatan bisa di dunia ini juga, bisa di akhirat nanti. Yg berbeda dalam hal pemahaman akhirat. Akhirat dalam pemahaman agama ardhi, ya dipanggil lahir kembali, tumimbal lahir, reinkarnasi. Untuk mendapatkan ganjaran atau balasannya.
Bagi yang memahami dan percaya konsep reinkarnasi dan karma jadi ngerti kenapa seseorang dilahirkan pada keluarga kaya dan kenapa seseorang dilahirkan pada keluarga miskin. Itu semua ganjaran atau balasan akibat perbuatan kita pada past life. Tuhan tidak semena - mena menempatkannya.
Alih - alih mencari tau sebab akibatnya, agama samawi mencoba bikin pendekatan agar umatnya bisa menerima kenyataan sebagai apa adanya. Takdirlah, atau mencoba: berlogika kalau semuanya kaya siapa yg mau bekerja, dsb. Baguslah kalau itu bisa meredam kecemburuan sosial. Tapi nyatanya ?
Tidak sedikit yang mengeluh karena kemiskinan, tidak mendapatkan akses ke kehidupan sosial yang dibutuhkan semacam pendidikan dsb. Belum lagi yang dapat raga dan muka yang tidak menguntungkan, dah ngeri ngadepin persaingan, minder duluan. Bisa jadi pecundang seumur hidup.
Memahami konsep reinkarnasi dan karma bahwa yang kita terima adalah yang pernah kita lakukan membuat kita yakin bahwa Tuhan itu memang benar benar adil. Bukan katanya katanya. Atau bikin segala pembenaran agar jangan sampai Tuhan marah. Jangan sampai jadi orang kafir atau apalah - apalah.
Dengan demikian diharapkan kita bisa memperbaiki nasib kita, banyak berbuat baik dan tidak berbuat buruk agar reinkarnasi nanti menjadi orang yang beruntung. Kalo umur panjang, didunia ini juga yg tadinya sial bisa beruntung. Kata lain menciptakan takdir baik buat kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar