Para Tetua (The Old Ones/The Elders)

Para Tetua (The Old Ones/The Elders) tingkatannya berada di atas level 6. Mereka merupakan kalangan “elite” di alam jiwa. Sebenarnya alam jiwa tidak mengenal hierarki sebagaimana alam manusia. Klasifikasi-klasifikasi yang selama ini dibuat oleh Newton adalah dimaksudkan untuk memudahkan kita dalam memahami “struktur” yang ada di alam jiwa sana.

Mengapa saya sebut mereka dengan kalangan “elite”? Karena tidak banyak jiwa yang dapat bekerja bersama dan berinteraksi secara langsung dengan Para Tetua ini, meski jiwa tersebut sudah mencapai level 6 (enam) sekalipun. Di alam jiwa, para jiwa hanya dapat merasakan pancaran energi kehadiran Para Tetua ini. Pancaran energi kehadiran seperti apa yang mereka rasakan terhadap energi Para Tetua? Bagi para jiwa, energi kehadiran Para Tetua memancarkan kekuatan pencerahan yang terpusat dan bimbingan (concentrated power of enlightenment and guidance) yang sangat luar biasa.

Tiap-tiap jiwa ingin mencapai tingkat kedewasaan dan kecerdasan sebagaimana Para Tetua ini. Mereka adalah role model bagi para jiwa di alam jiwa. Para Tetua mewakili elemen-elemen pikiran yang paling murni (represent the purest elements of thought). Salah satu keistimewaan mereka adalah keterlibatan langsung dalam proses perencanaan, pengaturan zat-zat, dan penciptaan yang ada di alam semesta. Masih ingat tentang Dunia Penciptaan dan Non-Penciptaan (DPNP)? Ya, kaitannya dengan Para Tetua ini. Jiwa-jiwa yang memiliki keahlian di bidang pembentukan dan penciptaan akan diarahkan terus agar dapat berkembang dan mahir sampai pada taraf yang setingkat dengan Para Tetua.

Jiwa-jiwa tingkat lanjut (advanced souls) yang telah banyak berkembang dalam bidang penciptaan akan terus dipantau dan dilatih, mulai dari pembentukan objek benda-benda mati, hingga benda-benda hidup; mulai dari skala kecil, lalu menengah, hingga skala besar. Pembentukan dan penciptaan yang mereka lakukan nantinya sudah tidak lagi dilakukan di Dunia Penciptaan dan Non-Penciptaan (DPNP) yang sekadar berfungsi sebagai tempat latihan dan laboratorium eksperimen, melainkan sudah benar-benar mempraktikkannya di sudut-sudut semesta.

Di planet-panet yang memungkinkan didiami oleh kehidupan, jiwa-jiwa tingkat lanjut ini berbagi tugas dan bekerja sama dalam melakukan pembentukan-pembentukan dan penciptaan-penciptaan. Penciptaan benda-benda hidup biasanya dimulai dari molekul-molekul, sel-sel terkecil, embrio, lalu organisme-organisme yang menyertainya. Penciptaan oleh para jiwa tingkat lanjut dilakukan dengan cara mengonsentrasikan energi mereka lalu mengubah arus radiasinya dengan porsi yang benar-benar ditakar secara cermat dan teliti.

Pembentukan dan penciptaan ini juga termasuk bagian dari tugas dan pembelajaran yang harus diemban oleh jiwa-jiwa tingkat lanjut agar terus dapat mengembangkan kecerdasan, keahlian, dan kedewasaan jiwanya. Jiwa-jiwa ini berlatih secara bertahap, berantai, dan konstan dalam melakukan pembentukan dan penciptaan melalui energi yang mereka miliki. Penciptaan-penciptaan yang mampu dilakukan sendiri, akan dilakukan secara individu. Akan tetapi...

Untuk penciptaan-penciptaan berskala besar, seperti bintang-bintang dan planet-planet, juga matahari-matahari yang ada di berbagai galaksi, para jiwa tingkat lanjut tidak bisa melakukannya sendiri. Mereka harus bekerja sama dengan jiwa-jiwa lain. Tujuannya adalah untuk menyatukan kekuatan dan mengombinasikan energi satu sama lain.
Untuk itu, ketika telah masuk pada tingkat lanjut, para jiwa tidak hanya belajar utk mengonsentrasikan energi mereka sendiri, tetapi juga belajar mengombinasikan & melakukan sinkronisasi energi melalui berlatih & bekerja sama agar dapat menghasilkan penciptaan-penciptaan terbaik.

Beralih ke soal tempat inkarnasi... Di alam jiwa, planet-planet tempat menjalani inkarnasi disebut sebagai “sekolah” oleh para jiwa, termasuk planet kita ini. Ya, planet Bumi. Disebut demikian karena planet-planet destinasi inkarnasi merupakan tempat untuk belajar dan mengembangkan diri. Dibandingkan dengan “sekolah” lain, sekolah (planet) Bumi merupakan sekolah yang paling tidak aman. (((PALING TIDAK AMAN))).

“Kok bisa, Oum Andi? Apaqa... karena tidak ada sekuritinya? Atau karena banyak tawuran antar pelajar, mz? Apaqa juga karena murid-muridnya berani ngelawan guru ya, Oum?”

Gini lho, dek... Bumi dianggap sebagai “sekolah” yang paling tidak aman karena planet ini merupakan planet yang paling berat bagi kehidupan para penghuninya. Ujian-ujiannya tidak hanya fisik, tapi juga mental. Planet ini dikesankan penuh dengan kebencian, pertikaian, dan konflik. Orang-orang yang menjadi pemimpin-pemimpin di planet ini saling beradu sikap antagonis. Pengikut-pengikutnya pun tak kalah beringas. Dampaknya, ada banyak rasa takut yang harus diatasi oleh para jiwa yang menjalani inkarnasi di sini. Betul, di planet ini. Sebuah planet yang diramaikan oleh konflik karena banyaknya kepentingan dan perbedaan. Citra Bumi yang sedemikian “keras” dalam pandangan para jiwa secara otomatis menjadikan planet ini hanya dipilih oleh jiwa-jiwa pemberani. Mereka adalah jiwa-jiwa yang paham risiko dan berani mengambil tantangan agar bisa berkembang.

Dibandingkan dengan Bumi yang padat dan “kejam”, planet-planet destinasi inkarnasi yang lain cenderung lebih harmonis dan populasinya lebih sedikit. Bumi... adalah sebuah planet di mana tingkat pertumbuhan populasinya melebihi tingkat perkembangan kesadaran mental orang-orangnya. Perkembangan kesadaran mental para penghuninya kalah cepat dibandingkan dengan ledakan populasi yang terus melonjak secara luar biasa. Untuk itu, penting sekali untuk membangun kesadaran mental orang2 di planet ini. Sebagai jiwa yg berinkarnasi dalam priode masa yg sama, kita memiliki tanggung jawab baik terhadap diri sendiri maupun terhadap sesama. Tugas ini bukan tugas individu, melainkan tugas kolektif.

Bagaimanapun, Bumi merupakan tempat belajar yang sulit. Hanya jiwa-jiwa pemberani saja yang memiliki keberanian lebih untuk memilih lokasi latih-tanding di planet yang penuh dengan perselisihan, percekcokan, dan pertubiran. Catat! (((HANYA JIWA-JIWA PEMBERANI))). Jadi, kamu-kamu yang merasa takut dan khawatir dengan risiko dan perjalanan kehidupan selama ini, hilangkan semua sifat negatif itu, juga untuk masa-masa yang akan datang.

Ingatlah selalu bahwa jiwa-jiwa yang mendiami raga kita ini memilih Bumi sebagai tempat inkarnasi bukan tanpa alasan. Ini merupakan pilihan jiwa kita sendiri dan telah disetujui oleh pembimbing jiwa kita. Sewaktu di sana, di alam jiwa. So, jiwa-jiwa kita bukanlah jiwa pecundang. Jiwa-jiwa kita adalah jiwa-jiwa bermental baja. Jiwa kesatria, jiwa petarung, dan juga jiwa pemberani. Kekhawatiran-kekhawatiran manusiawilah yang biasanya melemahkan kita. Perjalanan jiwa untuk menjadi dewasa dan sempurna adalah perjalanan yang sangat panjang dan berliku. Oleh karenanya, kerjasama menjadi penting. Kita tidak bisa berkembang tanpa bantuan dan arahan pembimbing, juga tanpa support tulus mendalam dari anggota-anggota kelompok jiwa.

Di Bumi... kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

Dengan orang sekitar, dengan orang-orang yang telah kita kenal, nyata maupun maya, kita “terikat” dlm sebuah perjanjian tak tertulis bahwa kita turun ke Bumi utk sama2 belajar dgn cara saling membantu, saling menolong, saling menyemangati, saling menguatkan, dan saling menopang. Maka, tak ada pilihan selain berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi pribadi yang baik dan rendah hati. Tak ada yang perlu disombongkan, tak boleh merendahkan yang lain. Jiwa kita adalah entitas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap yang lain. Jiwa kita adalah pejuang-pejuang kehidupan yang telah memilih jalan ninjanya masing-masing.

"Jiwa kita lahir dari Pencipta yang secara sengaja meletakkan keadaan damai jauh di depan jangkauan kita supaya kita berjuang lebih keras. Jiwalah yang membuat kita (menjadi) manusia, bukan sebaliknya” ~ Michael Newton.

Sekian...

Terima kasih banyak sudah menyimak

Sampai jumpa di tulisan alam jiwa berikutnya.

Damai di hati, damai di Bumi, damai di jiwa, dan alam semesta.

Komentar

Postingan Populer