JIN
Jin itu terdiri dari dua kata jim dan nun, satu akar kata dgn jannah yg kita artikan sebagai surga. Jin sama seperti jannah artinya tidak diketahui, tertutup (pengetahuan akan sesuatu). Jannah adalah tanah yang tertutup pepohonan, alias kebun.
Kebun atau taman dimana tanahnya tertutup pepohonan, pada zaman Nabi dikitaran masyarakatnya adalah sesuatu yg sangat didambakan, alias surga. Kemudian jannah atau surga itu berkembang seiring berkembangnya dakwah Nabi. Diisi kelengkapan di dalamnya.
Jin sama seperti jannah, adalah sesuatu yg tidak diketahui (asalnya) berkaitan dgn manusia, bukan mahluk halus. Kalo kita baca Al-Qur'an mengarah ke situ. Dalam Qur'an kata "jin" menunjuk orang yang tidak diketahui asalnya, kata lain pendatang. Orang asing !
Dalam Al-Qur'an, umumnya kata jin dipadankan dgn naas, misal : Minal jinnati wannaas yg umum diterjemahkan sebagai "dari golongan jin (mahluk halus) dan manusia." Pemahaman ini yang membuat muslim gak bisa terlepas dari dunia hantu. Jin ada di Al-Qur'an !
Selain gak bisa keluar dari dunia hantu, sepanjang jin diartikan sebagai mahluk halus, pembaca Al-Qur'an kagak bisa menarik pelajaran dari kisah2 yg ada dalam Al-Qur'an maupun Hadits. Saat bertemu dgn ayat berkaitan dgn (kata) jin, mentok. Ngomongin hantu.
Berbeda jika kita memahami maksud jin itu adalah pendatang, orang asing yang berada dikitaran Nabi saat itu. Maka terjemahan dari ; "minal jinnati wannas" menjadi dari orang asing (pendatang) dan orang lokal (pribumi). Naas artinya (manusia) pribumi.
Agama Islam lahir diantara orang - orang lokal (pribumi) dan pendatang yang ada di kitaran Nabi saat itu. Nabi mau mengangkat derajat pribumi dari keterbelakangan masyarakatnya saat itu (asing dan lokal). Itu sebabnya bahasan jin, cukup banyak dalam al-Qur'an.
Bahkan ada satu surah dinamakan "Al-Jinn". Kisah tentang serombongan orang asing yang mau menemui Nabi yang mengaku Rasul. Pembaca Al-Qur'an menterjemahkan jin itu sebagai mahluk halus. Ikut sholat sampe desak-desakan, masa.
Qur'an juga menginformasikan kalau jin (nonpri) itu sama seperti manusia (pribimi), ada yang baik dan ada yang jahat. Kalo jin itu diartikan sebagai orang asing, ayat itu jadi enak dibaca, bahwa orang asing itu sama seperti pribumi, ada yang baik dan ada yang jahat. Fakta, bukan halu.
Diluar itu ada yang namanya syaithon alias setan. Ini juga dimaknai sebagai mahluk halus. Padahal gak gitu syaithon yang dimaksud dalam Al-Qur'an. Syaithon atau setan itu adalah orang jahat. Gak ada kaitannya dengan mahluk halus.
"Syaithon/setan dari golongan jin dan manusia", maksudnya orang jahat dari kelompok orang asing atau kelompok pendatang dan orang jahat dari kelompok pribumi. Ini juga fakta, setiap zaman di manapun selalu ada kelompok jahat dari mana ajah. Bukan halu.
Peruqiyah menterjemahkannya sebagai "jin kafir dan jin muslim". Maksudnya yak tadi, orang asing yg jahat dan orang asing yg baik. Gak kudu jin kafir disuruh masup islam, melalui orang yang lagi kesurupan. Orang lagi kesurupan disuruh baca syahadat, masa.
Kalo iblis itu adanya berkaitan dengan kisah Adam. Setelah itu, iblis gak diceritain lagi. Iblis juga bukan mahluk halus seperti gambaran umum, iblis itu artinya putus asa. Kisah Adam maupun Iblis, itu lebih kearah metafor. Dari kisah yang sudah beredar saat itu.
And last but not least, kita bisa terhindar dari rasa takut akan keberadaan hantu, atas nama jin yg ada dalam Qur'an. Gak perlu ngeributin di patung atau di salib ada jin nya. Sama artinya dah keluar dari dunia hantu, termasuk percaya pada produk turunannya semacam santet dsb.
Dengan pembabaran ini memaknai kembali kata jin yang sebenarnya sesuai informasi dalam Al-Quran, diharapkan dah gak halu lagi tentang hantu. Paling tidak gak menganggap Al-Qur'an telah menginformasikan ttg hantu dengan nama jin, setan, iblis.
Eh...tapi kalau masih nyaman dengan cerita hantu, ya gapapa sih. Bebas, blass. Cerita jin atau hantu itu dalam perspektif islam banyak sludupan dari kisah2 israiliyat. Seperti diculik jin, kalau disini mah itu semacam cerita di culik wewe gombel.
Kisah jin menculik anak (kecil) itu maksudnya cerita orang asing menculik anak kecil. Kayak kejadian sekarang ajah, banyak anak yg diculik oleh orang asing, orang yang gak dikenal. Bukan diculik sama mahluk halus. Diumpetin wewe gombel di teteknya yang ngegayot. Sederhananya gitu.
Kalau dah paham itu, bisa ngerti bahwa permainan bambu gila atawa jailangkung dsb itu gak ada kaitannya dengan mistis, pemanggilan hantu atau apalah-apalah, itu cuma stage hypnosis.
Yang lucu, dimata orang relijius deh sebut kata gituh, permainan ini dituduh permainan jin, pakek bantuan jin kafir. Halah, gak ngerti cara kerjanya langsung nuduh orang sudah berbuat syirik. Mbokya pelajari dulu sebelum menuduh orang.
Komentar
Posting Komentar