Cahaya Di Atas Cahaya

Cahaya di atas cahaya.? Nanyanya ketinggian, oum Andi gak ngerti. Coba nanya sama yang lebih ngerti dari oum yak. Itu cuman bilang “Orang yang (masih) senang pada kegelapan, takut akan cahaya. Kalau pertanyaannya terlalu tinggi, ada dua kemungkinan ; – Yang bertanya nemang maqomnya dah tinggi. – Yang bertanya sekadar kepo. Gapapa sih, cuman …. Nur ala nur.

Kalau sekadar kepo dan kamu masih dalam goa kegelapan, kamu gak ngerti antara kebutuhan dengan keinginan kamu. Itu yang membuat kamu gak bisa berubah. Akan lebih baik kamu ke luar goa terlebih dahulu, melihat cahaya. Itu yang kamu butuhkan, bukan melihat cahaya diatas cahaya. Keluar rumah, salah satu cara melihat cahaya. Tidak memaksa cahaya masuk ke dalam rumah menyinari kamu. Memangnya kamu siapa ? Kemungkinan besar, memang kamu gak mau berubah, sudah nyaman dalam kegelapan. Cahaya di atas cahaya sekadar dongeng untuk menemani kamu.

Salah satu indikasi gak mau berubah, bertanya sesuatu yang gak bisa dipraktekin. Biar punya alasan agar dibenarkan ngejedog dalam keterpurukan. Kalau memang mau berubah, bertanyalah sesuatu yang bisa kita praktekin, untuk selanjutnya dipraktekin. Begitu selanjutnya. Bertanya dan praktekin selangkah demi selangkah. Kalau sudah biasa dan sudah berubah, baru kita bahas masa depan yang lebih luas. Pikirin yang sekarang saja dulu kalau masih dalam lubang sumur. Bagaimana caranya agar bisa keluar dari lobang sumur. Itu !

Nah, orang saat awal jadi pembaca tulisan oum “jalannya” masih nyuk nyak nyuk nyuk. Perlahan ngikutin setahap demi setahap, lah sekarang dah bisa lari. Gak tahu, selain dia ada gak yang praktekin kayak dia atas tulisan oum. Mau berubah dengan sungguh – sungguh. Padahal gak disuruh. Dalam epos Mahabharata, orang semacam ini digambarkan sebagai tokoh Ekalaya. Silent Reader. Belajar dengan cara “ngintip”. Dalam mitos Syehk Siti Jenar, orang semacam ini adalah Syekh Siti Jenar yang semula seekor cacing berubah menjadi manusia sekelas Syekh.

Ada beberapa lagi cerita kayak gini yang pesan moralnya : siapapun bisa meraup (ilmu) pengetahuan jika memang punya niat yang serius ingin mengubah kehidupan. Gak ada kaitannya sama gak punya duwit, gak punya dasar pengetahuan atau bla bla bla bla yang dianggap jadi penghalang. Banyak orang yang kayak gini, lebih banyak lagi orang yang cuman kepo, ibarat kata cuman nanya cek harga di toko sebelah. Beli saja enggak. Memang gak mau berubah. Jangan cepat-cepat ngambil kesimpulan kalau seseorang itu cuman kepo, kita kan bisa salah. Cek dan ricek lagi ya.

Kalau sudah yakin orang itu cuman kepo, kata ustaz felix bilang : sudah putusin saja. Buang-buang durasi nyawa. Mending ngomong yang lain, ngomong yang lucu-lucu, misale. Kita bisa ngomongin yang santai gak kudu selalu yang serius. Bagi saya, mengubah kehidupan itu sesuatu yang serius. Good ~> better ~> best. Sesuai kapasitas/plafond masing-mas ng. Tapi tetep saya hargai bagi yang gak mau berubah. Kita masih bisa temenan tanpa harus saling menyakiti. Toh seseorang berubah karena keinginan dan upayanya sendiri.

Sekadar ingetin saja, setelah lima tahun berlalu perubahan yang ada pada diri kita apa sih dampak bergaul dengan seseorang atau masuk dalam kelompok (pertemanan) tertentu.? Pastilah ada perubahannya, pastilah ada nilai tambahnya tapi bandingkanlah dengan tambahan usia kita ! Disitu kadang kita lupa. Dah buang buang nyawa dgn percuma. Saya sih berharap pembaca tulisan saya merasa ada perubahan yang signifikan dengan membaca tulisan saya. Jadi tau yang belum tahu, jadi paham yang sudah tahu. Hidupnya berubah. Sekadar berharap boleh khan ?

Komentar

Postingan Populer