Dongengku Malam Ini

Oum Andi ngedongeng ya, buat pengantar tidur kalian-kalian yang baik hatinya.
Jadi di sebuah desa ada anak ganteng, cerdas, pintar bernama Paijo. Karena itu disayangi penduduk seluruh desa.

Karena bosan dengan kehidupan di desa, Paijo pergi ke hutan mencari sesuatu yang menantang. Ketemulah Paijo dengan seorang nenek penyihir. Paijo diberi sebuah seruling yang jika dimainkan akan membawanya ke masa depan.

Bereksperimenlah Paijo dengan seruling sakti itu. Dimainkan hingga mngeluarkan nada yang merdu. Dia terbawa ke waktu masa remaja, bisa dia dengan masa remajanya. Mainkan lagi, ia terbawa ke waktu dimana melihat seorang ayah dan istrinya yang menua.

Makin bosan Paijo, dimainkan kembali seruling saktinya. Dibawalah dia ke waktu yang lebih tua. Sampai di sini mulai timbul rasa penyesalan dalam diri Paijo.

Ada banyak momen-momen kekinian yang lupa dinikmati. Masa kanak-kanak yang penuh tawa, masa remaja yang penuh persahabatan, masa kuliah yang penuh perdebatan. Dan menangislah Paijo, kembali pergi ke hutan minta nenek penyihir untuk mengembalikan hidupnya.

Kalau boleh jujur, hampir kebanyakan kita bersikap seperti Paijo: Terburu-buru ingin ke masa depan. Sesampai di sana menyesal ada banyak masa kini yang sudah menjadi masa lalu dan lupa dinikmati.

Banyak manusia cerdas yang keras sekali dalam mempersiapkan masa depan. Namun sering gagal menikmati dan menyukurinya. Anekdotnya buat yang suka ngeluh, "Dulu tidak bisa makan enak karena tidak punya uang, sekarang juga tidak bisa makan enak karena banyak pantangan."

Dipikir-pikir juga, bangsa ini serupa juga. Dulu eneg dengan orde lama, lalu ditumbangkan, ganti orde baru. Orde baru serupa, diganti orde reformasi. Inipun sudah membawa banyak orang membawa kebosanan.

Di Jakarta juga gitu. Diberi gubernur bekerja katanya klemer-klemer, digantilah yang tegas dan galak. Bosan, diganti yang pandai beretorika. Sepertinya orang Jakarta bosan juga.

Jika kita sudah capek berkejaran dengan masa depan, perlulah kita belajar berpelukan dengan masa kini. Dan itu tidak perlu syarat yang berat dan sulit. Dengan badan sekarang, usia sekarang, kekayaan materi sekarang belajarlah memeluk semuanya dengan senyuman.

Lebih mudah menemukan kesehatan dan kebahagiaan dengan senyuman dan persahabatan dibandingkan dengan kemarahan dan kebencian.

Makanya banyak penulis seperti (Spencer Johnson dalam bukunya berjudul The Present) menyimpulkan hari ini sama dengan the present (hadiah).

Orangtua, pasangan, anak-anak, pekerjaan, kesehatan sekarang, finansial, semuanya memang belum dan tidak sempurna. Namun semuanya menunggu kita untuk disyukuri.

Indonesia sebagai rumah memang banyak manusianya yang juga tidak sempurna. Namun Indonesia negeri kita ini menyisakan berlimpah hal yang layak disyukuri. Dari matahari terbit dan terbenam membawa keindahan, gunung sampai pantainya.

Bencana-bencana alam yang seringkali datang beruntun menerpa Indonesia membukakan bukti kalau manusia Indonesia masih peduli dan punya hati. Apakah kita masih belum mau menyukuri?

Jika berimajinasi, andaikan tersesat di angkasa luar, satu hal mimpi yang ingin terealisasikan adalah melangkahkan kaki di planet bernama bumi ini. Timur-Tengah boleh masih berperang, namun di sini di bumi Indonesia ini, masih tersedia berlimpah hal yang layak disyukuri.

Itulah mengapa, semalam aku bikin polling ini. Untuk mengukur seberapa kadar rasa syukur kita..

Selamat malam...

Komentar

Postingan Populer